Ada
beberapa hadits Rasulullah saw, terkait penyimpangan gender, sebagai berikut: ”Rasulullah
s.a.w. melaknat kepada orang-orang lelaki yang
menyerupakan diri sebagai kaum wanita dan orang-orang perempuan yang
menyerupakan diri sebagai kaum pria." (Riwayat Bukhari). Hadits
yang lain, Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. melaknat
kepada seorang lelaki yang mengenakan pakaian orang perempuan, juga melaknat
orang perempuan yang mengenakan pakaian orang lelaki." Diriwayatkan
oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
Saat
ini di dunia modern, dikenal dengan istilah androgini (androgynous)
yaitu seseorang yang memiliki dua karakteristik lelaki dan perempuan, sehingga
orang lain dapat salah sangka terhadap gender (lelaki atau perempuan) dari orang
tersebut. Androgini itulah salah satu contoh dari isi hadits Rasulullah saw di
atas. Penyimpangan gender ini dapat dikatakan banyak terjadi akibat pengaruh
lingkungan (phenotype), seperti pengaruh dari pendidikan orangtua, pergaulan
sekitar, budaya dan media massa.
Dalam
Islam, orangtua menerima amanah dari Allah SWT untuk mendidik anak-anaknya
menjadi seseorang yang memiliki karakter yang diharapkan oleh agama, yaitu
seseorang mukmin yang shaleh, cerdas, bertanggungjawab dan memiliki etos kerja
yang tinggi, Karakter-karakter insani yang mumpuni tersebut sudah dicontohkan
oleh Rasulullah Muhammad saw, seperti tuntunan dalam QS. Al Ahzab ayat 21
:”Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat
dan yang banyak mengingat Allah”.
Kita akan tahu bahwa cara Rasul saw mendidik keturunannya dan orang-orang di
sekitarnya dari Sirah Nabawiyah. Rasul saw memberikan contoh perilaku (action) sembari memberikan tuntunan
secara lisan.
Ada pendapat modern yang menyatakan biarlah
anak tumbuh-kembang bebas gender. Maksud pendapat ini, orangtua tidak perlu
membedakan perlakuan antara anak lelaki dan perempuan pada saat masih usia
balita (bawah lima tahun). Di Eropa dan Amerika, anak lelaki dilambangkan
dengan barang-barang (pakaian dan perlengkapannya) berwarna biru, sedangkan
anak perempuan dilambangkan dengan warna merah atau merah muda. Kita, yang
hidup di Indonesia, tergiring oleh cara berpikir mereka juga, tentunya akibat
pemasaran dan promosi media yang gencar. Sesungguhnya dalam ajaran Islam tidak
ada pengkhususan warna untuk sesuatu hal, terkecuali baju ihram lelaki
sebaik-baiknya berwarna putih, itu saja, jadi untuk bayi/anak lelaki dan
perempuan tidak perlu dibeda-bedakan warna pakaian dan pernak-pernik-nya. Dengan
perjalanan waktu, bayi yang tumbuh-kembang menjadi balita yang telah mampu
berjalan, mulai diperkenalkan pakaian yang sesuai dengan gender, sesuai ajaran
Islam.
Dalam Islam, bayi berumur sebelum 40 hari dan memiliki
orangtua yang mampu, di-sunnah-kan dilaksanakan akikah. Di sini sudah ada
penentuan jumlah hewan kambing yang harus disembelih untuk akikah berdasarkan
gender, yakni dua ekor untuk bayi lelaki dan satu ekor untuk bayi perempuan.
Hal ini menunjukkan bahwa orangtua dan komunitas sekitarnya telah tahu dan
sadar tentang gender dari bayi yang baru saja dilahirkan, selanjutnya mereka
harus mendidik sesuai dengan gender tersebut.
Terkait hadits di awal tulisan ini, sudah
jelas bahwa pakaian perempuan muslim (muslimah) jelas-jelas berbeda dengan
pakaian lelaki muslim, yakni adanya perbedaan aurat. Pakaian muslimah adalah
ber-hijab, harus menutup seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan,
tidak tipis (tembus pandang), tidak menunjukkan bentuk atau lekuk tubuhnya.
Jelas-jelas berbeda dengan pakaian lelaki yang tidak menggunakan aturan yang
sama, karena aurat lelaki adalah antara pusar dan lutut. Jadi bagaimana
orangtua tersebut mencontohkan dan mendidik kepada anaknya, menentukan
bagaimana kelak anak tersebut berpenampilan, apakah mengikuti syariah atau
tidak.
Pendidikan gender ini kemudian akan mengajarkan
anak tentang status dalam shalat jamaah. Gender yang dapat menjadi imam adalah
lelaki, baik sebagai imam pada jamaah lelaki maupun perempuan. Berbeda dengan
perempuan yang hanya dapat menjadi imam kepada sesama makmum perempuan. Aturan
yang menyangkut ibadah ini sangat penting karena ada usaha-usaha dari kaum
liberalis untuk mengubah aturan agama terkait imam shalat dengan
mengatasnamakan kesetaraan gender, kesetaraan gender tidak berlaku untuk urusan
ibadah kepada Allah SWT, muslimin wajib mengikuti syariah. Jangan sampai anak
keturunan kita menjadi orang beragama Islam tetapi merusak ajarannya, na’udzubillah min dzalik.
Gender inipun terkait dengan status dalam
perkawinan, dimana lelaki berstatus sebagai suami yang wajib memberikan nafkah
kepada istri dan anak, sedangkan perempuan berstatus sebagai istri yang wajib
taat kepada suami yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Jangan sampai
terjadi seorang suami tidak bertanggungjawab kepada keluarganya, sehingga sang
suami menggantungkan hidupnya kepada jerih payah sang istri yang membuat istri
memegang kendali dalam rumahtangga. Salah satu contoh adalah perempuan yang
menjadi tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di luar negeri, apalagi yang
bekerja di negara Timur Tengah. Banyak di antara mereka yang tidak didampingi
oleh mahramnya, akibatnya sering terdengar kabar pelecehan seksual terhadap
mereka. Penulis saat menunaikan ibadah haji merasakan ketidaknyamanan suasana
di tempat terbuka di kota Makkah dan Madinah. Perempuan harus ekstra waspada
dan mawas diri, peluang kejahatan seksual di sana lebih tinggi daripada di
Indonesia. Penulis pernah membaca tentang mualaf perempuan dari negara
minoritas Islam (seperti Amerika Serikat) yang mengalami kesulitan mendapat
visa haji karena mereka tidak memiliki mahram pendamping. Betapa mudahnya TKW
Indonesia yang dapat bekerja di negara-negara Arab tanpa mahram, sedangkan
untuk calon jamaah haji perempuan harus didampingi mahram. Hal ini sebenarnya
harus menjadi pekerjaan rumah bagi ulama Indonesia tentang pelanggaran aturan
agama, jangan mengandalkan aparat pemerintah dan pengusaha saja yang cenderung
mencari keuntungan atau devisa, demi kemaslahatan umat muslim Indonesia.
Wal Allahu ‘alam bishawab…